Cerita di Penghujung Oktober; Bulan Peduli Disleksia Sedunia

week 1 (fix)

Setiap bulan Oktober, negara-negara di berbagai belahan dunia mengadakan aksi secara serentak yang dinamakan ‘Bulan Peduli Disleksia’. Aksi kepedulian ini diadakan setiap tahun di berbagai negara seperti Inggris, Amerika, Kanada, dan lain-lain guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Disleksia. Beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan adalah seminar, workshop, aksi kampanye, dan lain sebagainya. Tidak jauh-jauh dari Indonesia, Bulan Peduli Disleksia juga gencar ‘disyiarkan’ di Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Bagaimana dengan Indonesia?

Untuk sebagian besar masyarakat kita, istilah “Disleksia” mungkin belum terdengar familiar. Nah, apakah itu Disleksia? Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik, khususnya pada area berbahasa, yang terjadi pada anak-anak dengan IQ normal maupun di atas rata-rata. Kesulitan berbahasa di sini tidak hanya tentang berbahasa tulisan, namun juga berbahasa lisan dan bahkan berbahasa sosial. Anak-anak Disleksia biasanya mempunyai masalah dalam hal membedakan huruf, mengeja, mengucapkan kata, dan aspek berbahasa lainnya seperti membaca arah, membaca emosi, sulit berpikir secara runtut, memiliki ingatan jangka pendek yang buruk, dan lain-lain. Disleksia bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan, Disleksia merupakan neurodiversity yang bersifat genetis dan tidak disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti masalah penglihatan dan pendengaran, serta sosial-ekonomi. Anak-anak Disleksia akan selamanya menyandang Disleksia, hanya saja, dengan intervensi yang tepat, mereka dapat mengatasi kesulitannya.Begitulah pemahaman tentang Disleksia yang dibahas di salah satu acara talkshow di stasiun televisi TV One (21/10/15) oleh dokter Purboyo Solek, Sp.A.(K)(Konsultan Syaraf Anak) dan dokter Kristiantini Dewi, Sp.A. (Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia).

Penegakan diagnosis Disleksia pada anak hanya dapat dilakukan oleh para ahli seperti dokter spesialis anak, psikolog, dan profesi lain yang berkompeten. Dokter Purboyo Solek, Konsultan Syaraf Anak, menjelaskan dalam bukunya Dyslexia Today Genius Tomorrow (2013, 29) bahwa diagnosis yang akurat pada anak yang berkebutuhan khusus ini menjadi sangat penting. Mengapa? Karena diagnosis yang akurat akan menentukan intervensi yang tepat untuk anak-anak tersebut.

Saya sendiri pertama kali mendengar istilah “Disleksia” sekitar tiga tahun lalu saat berkenalan dengan sebuah tim dari Jurusan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang saat itu tengah mengembangkan software aplikasi terapi untuk anak-anak penyandang Disleksia yang sempat diulas di Republika edisi lalu (4/12/2014). Bisa dibayangkan, kelompok masyakarat yang bidangnya tidak bersentuhan langsung dengan dunia kedokteran maupun psikologi, akan kecil kemungkinan mereka memahami tentang Disleksia atau bahkan hanya sekedar mendengarnya. Dokter Kristiantini Dewi, Sp.A., (Ketua Asosisasi Disleksia Indonesia) pun mengatakan bahwa kesadaran masyarakat di Indonesia terhadap Disleksia masih tergolong rendah. Di kalangan masyarakat yang sudah tahu apa itu Disleksia pun, pemahamannya masih berbeda-beda.

Menurut penelitian-penelitian yang terangkum dalam International Book of Dyslexia, prevalensi penyandang Disleksia tidak benar-benar sama di tiap negara, misalnya di Amerika sebesar 17%, Australia 16%, dan Malaysia 7%. Sayangnya, di Indonesia sendiri, penelitian secara menyeluruh tentang prevalensi penyandang Disleksia belum pernah dilakukan. Namun Journal of Child Psychology and Psychiatry, and Allied Disciplines (2004) menyatakan bahwa 1 dari 10 anak di dunia menyandang Disleksia, sehingga prevalensi ini bisa dijadikan acuan. Angka penyandang Disleksia tersebut cukup besar dan masalahnya, banyak anak-anak Disleksia di Indonesia yang tidak terdiagnosa apalagi tertangani. Anak-anak Disleksia yang tidak mendapatkan intervensi dengan benar bisa mengalami depresi, rendah diri, melakukan tindak criminal, dan bahkan bunuh diri. Tidakkah ironis jika anak-anak yang memiliki IQ normal atau malah mungkin di atas rata-rata dicap sebagai anak yang bodoh atau malas hanya karena ketidaktahuan kita terhadap kebutuhan khusus mereka?

Oleh karenanya, di bulan Oktober ini, beberapa elemen masyarakat seperti dokter anak, psikolog, terapis, guru, dan tentunya juga para orangtua tidak mau ketinggalan dalam aksi “Bulan Peduli Disleksia” kali ini. Salah satu aksi yang dilakukan adalah Kampanye Digital Bulan Peduli Disleksia, kampanye sosial ini telah dilaksanakan sejak tanggal 1 Oktober lalu. Aksi kali ini dikomando oleh Ibu Erlyza Prasty, salah satu Ibu dengan anak penyandang Disleksia yang tergabung dalam komunitas orang tua yang memiliki anak-anak Disleksia yang dinamakan DPSG Indonesia (Dyslexia Parents Support Group) bekerja sama dengan Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) dan LexiPal Indonesia. Selain kampanye digital, ADI Pusatyg dikomandani oleh dokter Kristiantini Dewi, ADI cabang Yogyakarta oleh Ibu Dra. Alif Muarifah, S.Psi, M.Si, Ph.D dan ADI cabang Acehyg dikomando oleh dokter Munadia, Sp.KFR tidak henti-hentinya menyebarkan informasi tentang Disleksia di berbagai sosial media, radio lokal, dan koran seperti Kedaulatan Rakyat (25/09/2015), Pikiran Rakyat (25/10/2015), Rakyat Aceh (19/10/2015), juga portal berita seperti Detik.com (28/10/2015).Tidak mau ketinggalan, DPSG Jawa Timur juga melakukan kampanye tentang Disleksia melalui siaran radio, seminar, talkshow, dan lain sebagainya.

Tak lupa, dengan segala hormat, memohon dukungannya sekali lagi kepada Presiden Jokowi yang beberapa bulan lalu sempat mendengarkan presentasi singkat tentang Disleksia pada acara Wirausaha Muda Mandiri 2015 di Jakarta yang disiarkan secara langsung oleh MetroTV (12/3/14) dan juga Bapak Anies Baswedan yang sempat berkunjung ke Child Development Center RS Melinda 2 Bandung dan menyempatkan diri berbincang tentang Disleksia dan mencoba menggunakan software aplikasi terapi Disleksia. Dan kepada seluruh masyarakat Indonesia, mari sejenak menjenguk tagar yang selama ini kami gaungkan dalam kampanye digital melalui berbagai sosial media dengan menggunakan tagar: #DyslexiaAwarenessMonth #BulanPeduliDisleksia #AsosiasiDisleksiaIndonesia.

Semoga aksi Bulan Peduli Disleksia ini tidak hanya menjadi euphoria di bulan Oktober saja, tetapi juga menjadikan setiap bulan adalah bulan peduli disleksia, demi anak-anak spesial kita penyandang Disleksia.

(Mega Ai)